Saratoga Raup Laba Rp3,47 Triliun hingga Kuartal III 2026, Saham Portofolio Jadi Penopang
MataBank.id - PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), perusahaan investasi milik Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno, membukukan laba bersih Rp3,47 triliun hingga akhir kuartal III 2026. Capaian tersebut berbalik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika perseroan mencatat rugi bersih Rp2,43 triliun.
Perbaikan kinerja Saratoga terutama ditopang keuntungan investasi pada saham dan efek lainnya dalam portofolio perusahaan. Investasi pada saham-saham blue chip menyumbang keuntungan Rp2,34 triliun, sedangkan pendapatan dividen mencapai Rp1,74 triliun.
Selain itu, investasi pada perusahaan berkembang memberikan kontribusi keuntungan Rp639,12 miliar. Adapun investasi di sektor teknologi digital, termasuk pengelola pusat data Digital Realty Bersama (DRB), menyumbang Rp17,15 miliar.
Saham tambang menjadi kontributor portofolio Saratoga
Mengutip laman resmi Saratoga, perseroan memiliki investasi pada sejumlah perusahaan tambang besar yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Kepemilikan tersebut mencakup 4,38% saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), 4,08% saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan 19,37% saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).
Berdasarkan data IDNFinancials, sepanjang periode awal tahun hingga 30 September 2026, saham AADI menguat 55,32%. Saham ADRO naik 33,52%, sementara MDKA mencatat kenaikan 23,61%.
Kenaikan tertinggi di antara sejumlah saham portofolio yang disebutkan justru dicatatkan PT Samator Indo Gas Tbk (AGII). Harga saham perusahaan tersebut melonjak 116,35% dalam sembilan bulan pertama 2026. Saratoga tercatat memiliki 10% saham AGII per September 2026.
Saratoga juga menggenggam kepemilikan mayoritas sebesar 57,67% di PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX). Emiten yang dikenal rutin membagikan dividen tersebut memiliki rata-rata dividend yield sekitar 12,92% dalam tiga tahun terakhir.
Hingga September 2026, saham MPMX naik 5,70%. Perusahaan ini merupakan distributor Honda di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di sisi lain, dua emiten dalam portofolio Saratoga justru mencatat penurunan harga saham hingga akhir September 2026, yakni PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA). Keduanya masing-masing terkoreksi 43,27% dan 67,96%.
Sementara itu, saham SRTG menguat 14,84% hingga September 2026. Namun, sepanjang Oktober, saham perseroan terkoreksi 9,27% dan ditutup pada level Rp1.615 per saham pada Jumat (30/10/2026).
Sejumlah saham portofolio Saratoga melemah pada Oktober
Meski portofolio Saratoga menunjukkan kinerja positif hingga September, pergerakan sejumlah saham investasinya berbalik melemah sepanjang Oktober 2026.
AADI menjadi satu-satunya saham dalam daftar portofolio yang masih mencatat kenaikan, yakni sebesar 4,79% selama bulan tersebut.
Sebaliknya, MDKA mengalami penurunan terdalam sebesar 35,59%. Saham TBIG dan NRCA juga melanjutkan pelemahan dengan koreksi masing-masing 31,53% dan 24,86%.
Saham AGII turun 2,33%, sedangkan ADRO melemah 1,23%. Adapun harga saham MPMX relatif stabil atau tidak mengalami perubahan sepanjang Oktober.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa penguatan portofolio hingga September tidak sepenuhnya berlanjut pada bulan berikutnya. Pelemahan sejumlah saham menjadi salah satu perkembangan yang perlu dicermati dalam melihat kinerja investasi Saratoga.
Edwin Soeryadjaya masih menjadi pemegang saham terbesar SRTG
Berdasarkan data IDNFinancials, Edwin Soeryadjaya masih menjadi pemegang saham terbesar Saratoga dengan kepemilikan 35,96% per September 2026.
Posisi berikutnya ditempati PT Unitras Pertama dengan kepemilikan 24,84%, disusul Sandiaga Salahuddin Uno sebesar 21,51%.
Sementara itu, porsi saham yang beredar di publik atau free float tercatat sebesar 11,81%, masih di bawah batas minimum yang disebutkan dalam data tersebut.
Edwin Soeryadjaya juga tercatat menambah kepemilikannya dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan data per 29 Oktober 2026, kepemilikan Edwin di SRTG telah mencapai 36,09%.
Dengan laba bersih Rp3,47 triliun hingga kuartal III 2026, Saratoga mencatatkan pembalikan kinerja dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, pelemahan sejumlah saham dalam portofolio selama Oktober menjadi perkembangan yang perlu diperhatikan pada periode berikutnya.
