Fintech GoPay Topang Laba GoTo Rp441 Miliar pada Kuartal III/2026
MataBank.id - Penguatan bisnis fintech GoPay menjadi salah satu penopang kinerja PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) setelah perusahaan membukukan laba bersih Rp441 miliar pada kuartal III/2026. Pertumbuhan segmen teknologi finansial tersebut membantu mengimbangi tekanan profitabilitas pada bisnis layanan transportasi atau Mobility.
Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga mengatakan, kontribusi bisnis fintech semakin penting di tengah tekanan yang dihadapi segmen On-demand Services (ODS), terutama layanan transportasi roda dua.
Tekanan tersebut berkaitan dengan penerapan komisi 8% pada layanan transportasi roda dua yang berlaku sepanjang kuartal III/2026. Kebijakan ini berdampak pada pendapatan dan profitabilitas bisnis Mobility.
Riset Phintraco Sekuritas mencatat, pendapatan lini Mobility turun 13% secara kuartalan menjadi Rp757 miliar. Sementara itu, EBITDA yang disesuaikan anjlok 45% menjadi Rp159 miliar, meskipun nilai transaksi bruto atau gross transaction value (GTV) masih tumbuh 7% menjadi Rp6,3 triliun.
"Penguatan bisnis Fintech berperan penting dalam mengimbangi tekanan profitabilitas On-demand Services [ODS]," kata Aditya dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026).
GoTo bukukan laba bersih Rp441 miliar
Di tengah tekanan pada bisnis transportasi, GoTo mampu mempertahankan tren profitabilitas selama tiga kuartal berturut-turut. Pada kuartal III/2026, pendapatan bersih perusahaan tumbuh 17% secara tahunan menjadi Rp5,6 triliun.
Pada periode yang sama, EBITDA yang disesuaikan meningkat 84% menjadi Rp950 miliar. Secara kumulatif selama sembilan bulan pertama 2026, GoTo mencatatkan laba atribusi Rp1,16 triliun, berbalik dari rugi Rp776 miliar pada periode yang sama sebelumnya.
Perbaikan kinerja tersebut ditopang pertumbuhan transaksi, ekspansi penyaluran pinjaman, serta peningkatan efisiensi operasional. Faktor-faktor tersebut membantu perusahaan menghadapi tantangan regulasi yang memengaruhi bisnis transportasi.
Di sisi lain, BNI Sekuritas memperkirakan penerapan batas komisi 8% memangkas EBITDA yang disesuaikan GoRide sekitar Rp150 miliar pada kuartal III/2026.
Profitabilitas GoRide bahkan sempat berada di zona negatif pada Juli. Namun, kinerjanya berangsur membaik dan mendekati titik impas menjelang akhir kuartal.
Tekanan pada layanan Mobility turut memengaruhi kinerja ODS secara keseluruhan. EBITDA yang disesuaikan segmen ini turun 25,2% dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi Rp347 miliar.
Pendapatan fintech GoPay tumbuh 49%
Berbeda dengan bisnis Mobility, segmen fintech GoPay mencatatkan pertumbuhan yang kuat. Pendapatan bersih bisnis ini melonjak 49% secara tahunan menjadi Rp2,3 triliun pada kuartal III/2026.
EBITDA yang disesuaikan segmen fintech juga melesat 304% menjadi Rp550 miliar. Nilai tersebut bahkan melampaui kontribusi EBITDA dari segmen ODS.
Pertumbuhan bisnis fintech didukung peningkatan aktivitas transaksi dan penyaluran pinjaman. Jumlah pengguna yang bertransaksi setiap bulan atau monthly transacting users (MTU) naik 26% menjadi 30,4 juta pengguna.
Sementara itu, volume transaksi meningkat 86% menjadi 2,8 miliar. GTV inti fintech juga tumbuh 96% menjadi Rp187 triliun, dengan total pinjaman yang disalurkan mencapai Rp12,05 triliun.
Kinerja segmen fintech yang melampaui ekspektasi turut mendorong GoTo menaikkan target EBITDA yang disesuaikan sepanjang 2026. Perusahaan kini membidik EBITDA sebesar Rp3,5 triliun hingga Rp3,7 triliun, lebih tinggi dibandingkan target sebelumnya sebesar Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.
BNI Sekuritas juga merevisi naik proyeksi EBITDA yang disesuaikan GoTo sebesar 9% menjadi Rp3,7 triliun. Proyeksi tersebut sejalan dengan batas atas target terbaru yang ditetapkan perusahaan.
