Bank Raya (AGRO) Cetak Laba Rp21 Miliar hingga Kuartal III/2026
Bank Raya membukukan laba bersih Rp21 miliar hingga kuartal III/2026, ditopang pertumbuhan kredit digital, simpanan digital, dan perbaikan kualitas kredit.
MataBank.id - PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) mencatatkan laba bersih sebesar Rp21 miliar hingga kuartal III/2026. Kinerja bank digital yang merupakan bagian dari BRI Group ini ditopang oleh pertumbuhan bisnis digital, peningkatan dana tabungan, serta optimalisasi pengelolaan aset produktif dan sumber pendanaan.
Dari sisi penyaluran pembiayaan, Bank Raya terus memperluas kredit melalui ekosistem digital. Hingga akhir September 2026, akumulasi penyaluran kredit digital perseroan mencapai Rp24,73 triliun, tumbuh 20% secara tahunan atau year-on-year (YoY).
Sementara itu, kredit digital yang masih berjalan atau outstanding tercatat sebesar Rp3,04 triliun, meningkat 11,3% YoY.
Salah satu produk yang menopang pertumbuhan tersebut adalah Pinang Dana Talangan, yang ditujukan untuk mendukung produktivitas bisnis keagenan. Hingga kuartal III/2026, akumulasi penyaluran produk ini mencapai Rp22,01 triliun atau tumbuh 25,3% YoY kepada lebih dari 72.000 agen BRILink dan Agen Gadai.
Adapun outstanding Pinang Dana Talangan mencapai Rp1,2 triliun, meningkat 32,3% YoY. Sementara itu, outstanding Pinang Maksima yang ditujukan untuk mendukung kegiatan usaha nasabah tercatat sebesar Rp1 triliun, tumbuh 47,8% YoY.
Dana Tabungan Digital Tumbuh 35,6%
Dari sisi penghimpunan dana, simpanan digital atau Digital Saving Bank Raya mencapai Rp2,4 triliun, meningkat 35,6% YoY. Aktivitas transaksi melalui Aplikasi Raya juga tumbuh 44,7% YoY menjadi 4,9 juta transaksi.
Pertumbuhan simpanan digital tersebut turut memperkuat struktur pendanaan perseroan. Rasio dana murah atau current account saving account (CASA) Bank Raya mencapai 35,83%, naik dibandingkan 29,78% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama Bank Raya Ida Bagus Ketut Subagia mengatakan, pencapaian kinerja perseroan merupakan hasil dari upaya berkelanjutan dalam memperkuat bisnis digital, meningkatkan kualitas layanan, serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan prinsip kehati-hatian.
“Bank Raya akan terus memperkuat inovasi dan memperluas akses keuangan digital guna mendukung pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (30/10/2026).
NPL Turun, NIM Meningkat
Seiring dengan ekspansi bisnis, Bank Raya juga mencatatkan perbaikan kualitas kredit. Hingga kuartal III/2026, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) bruto turun 203 basis poin (bps) secara tahunan menjadi 2,53%.
NPL neto juga turun 131 bps YoY menjadi 0,41%. Perbaikan kualitas kredit tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) sebesar 83 bps YoY menjadi 5,83%.
Peningkatan NIM mencerminkan optimalisasi pengelolaan aset produktif dan sumber pendanaan dalam mendukung kinerja intermediasi perseroan.
Dari sisi likuiditas, rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau loan to deposit ratio (LDR) tercatat sebesar 78,65%. Rasio kecukupan likuiditas atau liquidity coverage ratio (LCR) mencapai 707,4%, sedangkan net stable funding ratio (NSFR) berada pada level 167,59%, di atas ketentuan minimum sebesar 100%.
Adapun rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) Bank Raya tercatat sebesar 42,35%. Posisi permodalan tersebut memberikan ruang bagi perseroan untuk mengembangkan bisnis, memperkuat kapasitas penyaluran kredit, serta mengantisipasi berbagai risiko usaha.
