Sabtu, 31 Okt 2026 NewsFinansialFintechInvestasiNasabah
Breaking
Beranda › Finansial
Finansial

Raih Pendanaan US$110 Juta, Reka AI Bawa Dani Yogatama Masuk Jaringan Pengusaha Global

✍️ Putri Ayuningtyas 🕒 20 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Pendiri sekaligus CEO perusahaan kecerdasan buatan Reka AI, Dani Yogatama (kanan), berdiskusi dengan panelis dalam International Selection Panel (ISP) Endeavor ke-109 di Montreal, Kanada.
Pendiri sekaligus CEO perusahaan kecerdasan buatan Reka AI, Dani Yogatama (kanan), berdiskusi dengan panelis dalam International Selection Panel (ISP) Endeavor ke-109 di Montreal, Kanada. Foto: ANTARA/HO-Endeavor Indonesia

MataBank.id - Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pendiri dan CEO Reka AI, Dani Yogatama, terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur Indonesia ke-120 melalui seleksi internasional di Montreal, Kanada, pada September 2026.

Dani terpilih dalam International Selection Panel (ISP) Endeavor ke-109 yang berlangsung pada 15–17 September 2026. Berdasarkan pengumuman resmi Endeavor Global, panel tersebut memilih 19 pengusaha dari 10 perusahaan setelah menilai potensi pertumbuhan bisnis dan komitmen mereka dalam berkontribusi terhadap ekosistem kewirausahaan.

Dani mendirikan Reka AI bersama sejumlah peneliti teknologi pada 2022. Perusahaan tersebut berfokus mengembangkan model kecerdasan buatan (AI) multimodal yang mampu memproses berbagai jenis informasi, mulai dari teks, gambar, audio, hingga video.

"Fokus kami tetap jelas, membangun dan mengembangkan teknologi AI frontier untuk pasar global," kata Dani dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.

Menurut Dani, keanggotaan dalam jaringan Endeavor membuka peluang bagi Reka AI untuk memperluas kemitraan bisnis serta memperoleh akses kepada mentor, pengusaha, dan investor internasional. Ia juga berharap jejaring tersebut dapat mendukung pertumbuhan perusahaan sekaligus menjadi sarana berbagi pengalaman dengan generasi berikutnya dari pelaku usaha teknologi.

Endeavor Entrepreneur merupakan sebutan bagi pengusaha terpilih dalam jaringan Endeavor, organisasi kewirausahaan global yang menyediakan akses pendampingan, investor, dan kemitraan bisnis untuk membantu perusahaan berkembang ke pasar internasional.

Kembangkan Model AI Multimodal

Reka AI memperoleh pendanaan sebesar 110 juta dolar AS atau sekitar Rp1,99 triliun pada 2025 dari sejumlah investor, termasuk NVIDIA dan Snowflake. Pendanaan tersebut mengantarkan valuasi perusahaan melampaui 1 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp18,05 triliun.

Dalam pengembangan teknologi, Reka memiliki sejumlah produk berbasis AI. Salah satunya, Reka Flash, model dengan 21 miliar parameter yang dirancang untuk mendukung pemrosesan beragam jenis informasi dalam satu sistem.

Perusahaan tersebut juga mengembangkan Reka Vision untuk pencarian dan analisis informasi visual, serta Reka Research untuk membantu menjawab pertanyaan kompleks melalui penelusuran informasi dari web dan dokumen.

Selain itu, Reka mengembangkan Reka Quant untuk meningkatkan efisiensi penggunaan model AI, termasuk mengurangi kebutuhan komputasi saat teknologi diterapkan dalam kegiatan usaha.

Dani mengatakan pengembangan model AI yang mampu bersaing di tingkat global membutuhkan kombinasi riset, tenaga ahli, infrastruktur komputasi, serta kemampuan menerapkan teknologi untuk menjawab kebutuhan industri.

"Kami ingin membangun teknologi yang bukan hanya kuat secara riset, tetapi juga efisien dan dapat digunakan perusahaan di berbagai industri," ujar dia.

Berpengalaman di Google DeepMind

Dani merupakan lulusan ITB yang melanjutkan pendidikan di University of Tokyo, Jepang, sebelum meraih gelar doktor bidang ilmu komputer dari Carnegie Mellon University, Amerika Serikat.

Sebelum mendirikan Reka AI, ia pernah bekerja di Baidu Silicon Valley AI Lab dan menghabiskan sekitar enam tahun sebagai peneliti senior di Google DeepMind, London.

Managing Director Endeavor Indonesia Monika Rudijono menilai keberhasilan Dani membangun perusahaan AI berskala global menunjukkan potensi talenta Indonesia untuk berperan dalam pengembangan teknologi, bukan hanya menjadi pengguna.

"Indonesia tidak kekurangan talenta AI kelas dunia. Yang selama ini kurang adalah jalur bagi talenta itu untuk membangun perusahaan global dan tetap terhubung ke ekosistem asalnya," kata Monika.

Menurut Monika, terpilihnya Dani memperluas representasi pengusaha teknologi dalam jaringan Endeavor Indonesia, yang sebelumnya banyak berasal dari sektor konsumen, teknologi finansial, dan logistik.

Perkembangan tersebut sejalan dengan arah penguatan industri digital nasional. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) pada 6 Oktober 2026 menyatakan Indonesia perlu berkembang dari pasar digital menjadi basis produksi, inovasi, dan investasi teknologi di kawasan Asia Tenggara.

Dalam pengembangan sumber daya manusia, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Komdigi bersama ASEAN Foundation juga menjalankan program AI Ready ASEAN. Pada fase kedua di Indonesia, program tersebut menargetkan 250.000 peserta untuk memperluas literasi dan pemanfaatan AI.

Pada 19 Oktober 2026, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menekankan pentingnya pengembangan AI yang selaras dengan kapasitas sumber daya manusia, ketersediaan infrastruktur, dan perlindungan masyarakat.

💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update