Jumat, 06 Nov 2026 NewsFinansialFintechInvestasiNasabah
Breaking
Beranda › Investasi
Investasi

IHSG Ditutup Menguat 0,40 Persen ke 5.050, Saham Perbankan Jadi Penopang

✍️ Putri Ayuningtyas 🕒 06 Nov 2026 👁️ 0x dibaca
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/10/2026). Foto: CNBC Indonesia/Faisal Rahman

MataBank.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Jumat (6/11/2026) dengan kenaikan 0,40 persen ke level 5.050,43. Indeks bertambah 20,17 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya setelah berhasil bangkit dari tekanan jual yang mendominasi perdagangan sejak pembukaan.

Pada awal sesi, IHSG sempat terkoreksi hingga 4.955,83 sebelum menyentuh titik terendah harian di 4.925,10. Tekanan tersebut membuat pergerakan indeks sepanjang sesi pertama cenderung terbatas di kisaran 4.930-4.960.

Upaya pemulihan sempat terjadi beberapa kali, tetapi indeks belum mampu kembali menembus level psikologis 5.000. Perubahan arah yang lebih kuat baru terlihat pada sesi kedua, sekitar pukul 14.00 WIB.

IHSG kemudian bergerak melewati 4.960 dan melanjutkan kenaikan menuju area 4.980. Menjelang penutupan, indeks berhasil menembus level 5.000 hingga akhirnya mencapai 5.050,43. Angka tersebut sekaligus menjadi posisi tertinggi IHSG sepanjang perdagangan Jumat.

Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat sebanyak 411,29 juta lot. Nilai transaksi mencapai Rp7.765,86 miliar atau sekitar Rp7,77 triliun.

Saham perbankan menjadi penopang utama IHSG

Data Refinitiv menunjukkan sektor keuangan menjadi penggerak terbesar penguatan indeks dengan kenaikan 2 persen. Sektor konsumer nonkritikal juga memberikan kontribusi positif setelah tumbuh 1,1 persen.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama dari industri perbankan, ikut menopang pergerakan IHSG. Beberapa emiten yang memberikan kontribusi positif antara lain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA).

Dukungan terhadap indeks juga datang dari PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) dan PT Astra International Tbk. (ASII).

Meski demikian, kenaikan IHSG tidak berlangsung tanpa tekanan. Sejumlah saham yang menahan laju indeks di antaranya PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), serta PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas perkiraan pasar

Dari sisi domestik, salah satu faktor yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026. Data tersebut menunjukkan kinerja ekonomi nasional lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada Kamis (5/11/2026), perekonomian Indonesia tumbuh 5,47 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada periode Juli-September 2026.

Angka tersebut melampaui pertumbuhan kuartal II-2026 sebesar 5,29 persen dan konsensus ekonom yang dihimpun CNBC Indonesia sebesar 5,20 persen.

Pertumbuhan pada kuartal III-2026 juga menjadi yang tertinggi sejak kuartal I-2026, ketika ekonomi nasional mencatat kenaikan 5,61 persen.

Namun, secara kuartalan (quarter-to-quarter/QtQ), ekonomi Indonesia tumbuh 1,59 persen. Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 3,73 persen pada kuartal sebelumnya.

Selain data pertumbuhan ekonomi, investor turut mencermati hasil rapat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta kebijakan pemerintah mengenai insentif investasi dan fasilitas tax holiday. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari pertimbangan pasar dalam menilai prospek ekonomi dan iklim investasi nasional.

Harga produsen Zona Euro melonjak, tertinggi sejak 2023

Perhatian investor juga tertuju pada perkembangan ekonomi global, terutama kenaikan harga produsen di kawasan Zona Euro.

Eurostat melaporkan pada Kamis (5/11/2026), indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) Zona Euro meningkat 11,1 persen secara tahunan pada September 2026. Angka tersebut melampaui perkiraan pasar sebesar 10,9 persen sekaligus menjadi kenaikan tertinggi sejak Februari 2023.

Secara bulanan, PPI kawasan tersebut bertambah 2,5 persen pada September. Kenaikan ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 2 persen pada Agustus 2026.

Tren serupa juga terlihat di Uni Eropa secara keseluruhan. Harga produsen di kawasan tersebut meningkat 10,9 persen secara tahunan dan 2,6 persen secara bulanan.

Kenaikan harga produsen menjadi perhatian karena dapat mencerminkan bertambahnya beban biaya produksi, terutama dari komponen energi. Perkembangan tersebut juga berpotensi memengaruhi prospek inflasi dan keputusan kebijakan moneter di kawasan Eropa.

Bank of England naikkan suku bunga menjadi 4 persen

Sentimen dari Inggris turut mewarnai pergerakan pasar keuangan global. Bank Sentral Inggris atau Bank of England (BoE) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4 persen pada November 2026.

Keputusan tersebut disepakati melalui pemungutan suara dengan hasil 8-1, sesuai ekspektasi pasar. Kenaikan ini menjadi penyesuaian suku bunga pertama BoE sejak Agustus 2023.

Salah satu anggota Komite Kebijakan Moneter (Monetary Policy Committee/MPC), Catherine Mann, bahkan mengajukan usulan kenaikan yang lebih besar, yakni 50 basis poin hingga mencapai 4,25 persen.

BoE menyatakan kebijakan suku bunga tidak mengikuti jalur penyesuaian yang telah ditentukan secara kaku. Komite akan mempertimbangkan perkembangan data ekonomi dalam setiap pertemuan sebelum mengambil keputusan berikutnya.

Langkah tersebut diarahkan untuk membawa inflasi konsumen Inggris kembali ke sasaran 2 persen dalam jangka menengah.

Selain kebijakan bank sentral Inggris, pelaku pasar juga memantau perkembangan politik Amerika Serikat setelah pemilu sela, pergerakan harga minyak dunia, serta kondisi bursa saham Wall Street. Pelemahan saham-saham teknologi di AS menjadi salah satu faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi sentimen investor di pasar internasional.

Dengan demikian, arah perdagangan saham Indonesia selanjutnya akan dipengaruhi oleh kombinasi perkembangan ekonomi domestik, kebijakan moneter negara maju, dan dinamika pasar global.

💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update