Jumat, 06 Nov 2026 NewsFinansialFintechInvestasiNasabah
Breaking
Beranda › News
News

Google Investasi Rp270 Triliun di Malaysia untuk Bangun Pusat Data

✍️ Putri Ayuningtyas 🕒 06 Nov 2026 👁️ 0x dibaca
Google Investasi Rp270 Triliun di Malaysia untuk Bangun Pusat Data
Google Investasi Rp270 Triliun di Malaysia untuk Bangun Pusat Data Foto: Dok. Pixabay

MataBank.id - Google berencana menanamkan modal sebesar 15 miliar dollar AS atau setara Rp270 triliun di Malaysia pada periode 2027-2028. Investasi tersebut diarahkan untuk membangun pusat data dan infrastruktur teknologi lainnya guna memenuhi kebutuhan komputasi yang terus meningkat, terutama untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Rencana ekspansi perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS) itu sekaligus memperkuat posisi Malaysia sebagai salah satu pusat investasi industri digital di Asia Tenggara.

Komitmen terbaru tersebut menambah investasi Google yang sebelumnya diumumkan pada 2024 senilai 2 miliar dollar AS. Ekspansi ini didorong oleh kebutuhan infrastruktur komputasi yang semakin besar untuk mendukung layanan digital dan perkembangan teknologi AI.

Google menilai kondisi ekosistem digital Malaysia menjadi salah satu faktor yang mendukung pengembangan bisnis perusahaan di negara tersebut.

"Malaysia merupakan salah satu ekonomi digital paling dinamis di Asia Tenggara, didorong oleh penetrasi internet sebesar 99% dan adopsi AI yang pesat di kalangan lembaga pemerintah, bisnis, dan konsumen," kata Google dalam pernyataannya, dikutip dari Yahoo News, (Kamis 5/11/2026).

Selain pembangunan kompleks pusat data di kawasan industri, Google menyatakan akan menerapkan langkah efisiensi energi dan menjaga ketahanan pasokan air di wilayah operasionalnya. Perusahaan juga berkomitmen mendukung penambahan kapasitas energi bersih ke jaringan listrik nasional Malaysia hingga lebih dari satu gigawatt.

Investasi tersebut diperkirakan turut membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat setelah fasilitas mulai beroperasi.

"Setelah beroperasi, fasilitas tersebut diproyeksikan menopang lebih dari 9.000 lapangan kerja lokal setiap tahun, dengan rata-rata upah 45% di atas median nasional," jelasnya.

Malaysia menjadi pusat pembangunan data center di Asia Tenggara

Ekspansi Google berlangsung ketika Malaysia semakin menonjol sebagai lokasi pengembangan infrastruktur pusat data di kawasan Asia Tenggara. Pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya kebutuhan kapasitas komputasi untuk menjalankan berbagai aplikasi AI, termasuk chatbot dan generator gambar.

Teknologi tersebut memerlukan sumber daya komputasi besar, baik untuk proses pelatihan model maupun pengoperasian layanan.

Data perusahaan intelijen pasar DC Byte menunjukkan Malaysia menguasai lebih dari separuh kapasitas pusat data yang sedang dibangun di Asia Tenggara. Perhitungan tersebut mencakup proyek infrastruktur serupa di Indonesia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.

Aktivitas pembangunan pusat data juga dinilai menjadi salah satu penopang prospek ekonomi Malaysia. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan perekonomian negara tersebut tumbuh 5,2 persen pada 2026, dengan pembangunan infrastruktur pusat data turut memberikan kontribusi terhadap aktivitas ekonomi.

Konsumsi listrik dan air menjadi perhatian pemerintah Malaysia

Di tengah peluang investasi yang besar, ekspansi pusat data juga menghadirkan tantangan dalam pengelolaan sumber daya alam. Fasilitas tersebut membutuhkan pasokan listrik tinggi untuk menjalankan server dan perangkat komputasi, termasuk sistem yang mendukung operasional AI.

Apabila kebutuhan energi terus meningkat tanpa diimbangi pasokan yang memadai, jaringan listrik berpotensi menghadapi tekanan tambahan. Persoalan ini menjadi semakin penting ketika sebagian sumber energi masih berasal dari bahan bakar fosil.

Kebutuhan air juga menjadi perhatian karena pusat data memerlukan sistem pendingin untuk menjaga suhu perangkat tetap stabil. Penggunaan air dalam jumlah besar berpotensi menambah tekanan terhadap ketersediaan sumber daya di sekitar lokasi pembangunan.

Sejumlah proyek pusat data di berbagai negara bahkan menghadapi penolakan masyarakat. Kekhawatiran yang muncul antara lain berkaitan dengan kebisingan, polusi, perubahan kondisi lingkungan kawasan, serta perbandingan antara besarnya investasi dan jumlah pekerjaan yang dihasilkan.

Pada Juli lalu, Wakil Perdana Menteri Malaysia menyampaikan perkiraan bahwa konsumsi energi pusat data dapat mencapai sepertiga dari total kebutuhan energi nasional pada 2035.

Untuk mengantisipasi peningkatan permintaan tersebut, pemerintah Malaysia menyatakan akan memperketat persyaratan pembangunan fasilitas pusat data. Persetujuan proyek baru akan diberikan setelah ketersediaan pasokan listrik dan air dinilai mencukupi.

Langkah tersebut dimaksudkan agar pertumbuhan industri digital dapat berjalan seiring dengan kemampuan penyediaan sumber daya dan perlindungan lingkungan.

💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update