IHSG Dibayangi Tekanan Jual, Simak Prediksi dan Level Kunci Pekan Ini
MataBank.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi tekanan pada perdagangan Senin (26/10/2026), setelah mencatat penguatan 4,90% sepanjang pekan sebelumnya. Pada akhir sesi I, IHSG terkoreksi 1% ke level 5.384,97, meski sebelumnya sempat bertahan di atas level psikologis 5.400.
Tekanan tersebut terjadi setelah IHSG ditutup menguat 0,95% atau 51,35 poin ke level 5.439,26 pada Jumat (23/10/2026). Sepanjang perdagangan Jumat, indeks bergerak dalam rentang 5.366–5.455 dan mengakumulasi kenaikan 4,90% dibandingkan penutupan Jumat pekan sebelumnya.
Pada awal perdagangan Senin, IHSG dibuka melemah 12,51 poin atau 0,23% ke level 5.426,75 berdasarkan data IDX Mobile. Indeks sempat bergerak di kisaran 5.420,42–5.449,35 sebelum tekanan jual meningkat.
Hingga akhir sesi I, IHSG berada di level 5.384,97 atau turun 54,29 poin dari penutupan sebelumnya. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.453,65 dan terendah 5.349,75.
Data IDX Mobile menunjukkan 497 saham melemah, 199 saham menguat, dan 267 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp7,584 triliun dengan volume perdagangan 17,99 miliar saham serta frekuensi transaksi sebanyak 1,129 juta kali.
Analis Proyeksikan IHSG Uji Level 5.500–5.600
Sebelum tekanan pada perdagangan Senin, tim riset Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan untuk menguji area 5.500–5.600. Secara teknikal, tim menilai tekanan jual mulai mereda setelah indeks berhasil bertahan di atas level psikologis 5.400 pada penutupan pekan lalu.
"Terbuka potensi penguatan IHSG lebih lanjut untuk menguji level di 5.500-5.600 pada pekan depan," tulis tim riset Phintraco Sekuritas, dikutip Minggu (25/10/2026).
Meski demikian, proyeksi tersebut perlu dicermati bersama perkembangan perdagangan terbaru. Pelemahan IHSG pada Senin menunjukkan bahwa tekanan jual masih berpotensi muncul dan keberlanjutan penguatan indeks belum sepenuhnya terjamin.
Pada perdagangan Jumat, seluruh sektor saham berakhir di zona hijau. Sektor siklikal (cyclical) dan industri mencatat kenaikan terbesar. Namun, penguatan tersebut terjadi di tengah sentimen negatif berupa kenaikan harga minyak mentah.
Di pasar valuta asing, rupiah juga melemah tipis 0,01% ke level Rp18.067 per dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan harga minyak dan nilai tukar rupiah menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan investor karena dapat memengaruhi sentimen pasar saham.
IHSG Belum Tunjukkan Sinyal Pembalikan Tren
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai pemulihan IHSG masih perlu dicermati karena indeks belum menunjukkan sinyal pembalikan tren yang terkonfirmasi.
“IHSG berhasil bertahan di atas level psikologis 5.400, tetapi masih berada di bawah MA20 sekitar 5.813, sehingga tren jangka pendek belum sepenuhnya pulih,” tulis Reza dalam risetnya, Senin (26/10/2026).
Menurut Reza, respons positif pasar terhadap reformasi pasar modal turut menopang penguatan IHSG. Salah satu kebijakan yang menjadi perhatian adalah rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.
Namun, ketidakpastian terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan tekanan pasar global masih menjadi tantangan bagi pemulihan indeks. Investor juga akan mencermati tindak lanjut reformasi oleh BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), stabilitas rupiah, serta pergerakan arus dana asing.
Level Support dan Resistance IHSG
Secara teknikal, Reza memetakan area resistance terdekat IHSG pada rentang 5.494–5.539. Jika indeks mampu menembus area tersebut, peluang penguatan lanjutan berpotensi terbuka.
Sebaliknya, area support terdekat berada di kisaran 5.400–5.366. Apabila tekanan jual meningkat dan IHSG menembus area itu, indeks berpotensi menguji support berikutnya pada rentang 5.244–5.116.
“MACD masih negatif meskipun histogram mulai membaik, sehingga penguatan saat ini masih perlu diperlakukan sebagai technical rebound, belum reversal terkonfirmasi,” tulisnya.
Indikator tersebut menunjukkan bahwa kenaikan IHSG sebelumnya belum cukup untuk memastikan perubahan tren menjadi positif. Karena itu, investor perlu memperhatikan kemampuan indeks bertahan di area support dan menembus resistance untuk menilai arah pergerakan berikutnya.
Keputusan The Fed dan Harga Minyak Jadi Perhatian
Dari eksternal, pelaku pasar akan mencermati keputusan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), serta konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell pada 29 Oktober 2026. Konsensus yang dipantau memperkirakan suku bunga tetap di level 4,00%.
Selain kebijakan moneter AS, kenaikan harga minyak Brent ke sekitar US$114 per barel akibat eskalasi geopolitik meningkatkan risiko inflasi global. Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga dan sentimen investor terhadap aset berisiko.
Dari dalam negeri, laporan keuangan emiten kuartal III/2026 menjadi salah satu katalis penting. Kinerja perusahaan akan menjadi perhatian untuk menilai ketahanan fundamental emiten di tengah volatilitas pasar.
Dengan demikian, peluang IHSG untuk kembali menguji level 5.500–5.600 masih perlu dilihat bersama perkembangan teknikal dan sentimen pasar. Pelemahan pada sesi I Senin menjadi pengingat bahwa investor perlu mencermati level support, pergerakan rupiah, harga minyak, serta perkembangan kebijakan global sebelum mengambil keputusan investasi.
