Sabtu, 31 Okt 2026 NewsFinansialFintechInvestasiNasabah
Breaking
Beranda › News
News

IHSG Ambruk, Warga Ramai Borong Dolar AS di Money Changer Jakarta

✍️ Putri Ayuningtyas 🕒 19 Oct 2026 👁️ 7x dibaca
Pengunjung menukar uang di tempat penukaran uang di Money Changer Ayu Masagung kawasan Kwitang, Jakarta, Rabu, (3/6/2026). Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) hari ini.
Pengunjung menukar uang di tempat penukaran uang di Money Changer Ayu Masagung kawasan Kwitang, Jakarta, Rabu, (3/6/2026). Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) hari ini. Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

MataBank.id - Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat (16/10/2026) mendorong peningkatan permintaan dolar Amerika Serikat (AS) di sejumlah tempat penukaran uang atau money changer di Jakarta Pusat. Tingginya permintaan tersebut turut mendorong kenaikan harga dolar AS, menurut pelaku usaha penukaran valuta asing.

Supervisor PT Daffa Indo Valuta, Aris Permana, mengatakan masyarakat ramai membeli dolar AS setelah IHSG anjlok menyusul langkah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi terkait perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia.

Menurut Aris, peningkatan permintaan yang tidak diimbangi ketersediaan dolar AS di pasar menjadi salah satu faktor kenaikan harga mata uang tersebut.

"Justru waktu itu malah banyak yang beli. Nah, makanya kenapa dolar AS nya di hari Jumat naik itu karena peminat dolar AS-nya meningkat daripada yang jualnya," ujar Aris saat berbincang dengan CNBC Indonesia, Senin (19/10/2026).

Ia memperkirakan harga dolar AS dapat kembali turun apabila pasokan di pasar bertambah. Namun, Aris tidak merinci jumlah masyarakat yang membeli dolar AS maupun besarnya peningkatan transaksi dibandingkan periode sebelumnya.

Di tempat lain, VIP Money Changer di kawasan Jakarta Pusat juga terlihat ramai didatangi masyarakat yang hendak menukarkan uang. Pantauan hingga pukul 11.00 WIB menunjukkan hampir seluruh konter yang tersedia dipadati pengunjung.

Keramaian tersebut terjadi di tengah pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah berada di level Rp18.045 per dolar AS pada saat data tersebut dicatat.

Salah satu warga yang melakukan transaksi adalah Adil Haryono (57), seorang pekerja yang menukarkan US$10.000 miliknya ke rupiah dengan kurs Rp18.020 per dolar AS. Dari transaksi tersebut, ia memperoleh Rp180,2 juta.

Adil mengatakan kenaikan nilai dolar AS menjadi salah satu pertimbangannya untuk menukarkan mata uang tersebut.

"Pengaruh yang lebih signifikan karena makin tingginya nilai dolar aja," ujar Adil saat berbincang dengan CNBC Indonesia.

"Kita semua tahu ya kondisi Indonesia saat ini kita tahu ya semuanya. Nilai rupiah hampir enggak ada harganya gitu ya," ujarnya.

Sementara itu, PT Daffa Indo Valuta menetapkan kurs jual dolar AS sebesar Rp18.120 pada Senin (19/10/2026). Dengan kurs tersebut, masyarakat perlu membayar Rp18.120 untuk membeli setiap US$1.

IHSG Tertekan di Tengah Isu Perubahan Klasifikasi MSCI

Tekanan di pasar valuta asing terjadi bersamaan dengan pelemahan tajam pasar saham Indonesia. Pada Senin (19/10/2026), IHSG masih bergerak di zona merah.

Hingga pukul 10.29 WIB, IHSG berada di level 4.916,81, turun 268,30 poin atau 5,17%. Indeks dibuka di level 4.961,88, melemah sekitar 223 poin dari penutupan akhir pekan.

IHSG sempat naik ke level tertinggi intraday 4.974,66, tetapi penguatan tersebut tidak bertahan lama. Indeks kemudian kembali tertekan dan menyentuh level terendah 4.907,37, atau terkoreksi sekitar 5,4%.

Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), IHSG sempat melemah hingga 11,12%. Tekanan muncul setelah MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Keputusan final ditargetkan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.

MSCI menyoroti kekhawatiran investor mengenai transparansi kepemilikan saham, dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, serta efektivitas penegakan aturan. Meski regulator telah mengumumkan sejumlah reformasi, MSCI menilai belum terdapat kemajuan yang memadai dan konsisten.

Sejalan dengan rencana reklasifikasi tersebut, MSCI mempertahankan pembekuan sejumlah perubahan indeks saham Indonesia. Kebijakan itu mencakup tidak menaikkan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), tidak menambahkan saham ke MSCI Indonesia Investable Market Index (IMI), serta tidak menaikkan saham ke segmen indeks dengan kapitalisasi lebih besar.

Pelaku pasar dapat menyampaikan tanggapan atas konsultasi tersebut hingga 30 April 2027. MSCI menyatakan rencana reklasifikasi dapat ditinjau kembali apabila hasil konsultasi menunjukkan bukti perbaikan material dalam tata kelola dan fungsi pasar saham Indonesia.

💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update