Sabtu, 31 Okt 2026 NewsFinansialFintechInvestasiNasabah
Breaking
Beranda › News
News

Hemat Cadangan Devisa, BI Pangkas Porsi Intervensi Rupiah di Pasar Spot Sisa 30 Persen

✍️ Putri Ayuningtyas 🕒 28 Sep 2026 👁️ 8x dibaca
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti Foto: Istimewa

Bank Indonesia (BI) memangkas porsi intervensi dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di pasar spot hingga tersisa 30 persen dari total intervensi pasar. Langkah strategis ini diambil guna menahan laju penurunan cadangan devisa (cadev) nasional yang tergerus akibat tingginya biaya intervensi langsung.

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa bank sentral kini mengalihkan fokus penguatan kurs ke instrumen pasar pasif dan derivatif valuta asing, seperti Domestic Non-Delivery Forward (DNDF) dan Non-Delivery Forward (NDF).

"Kita pun sekarang sudah sangat mengurangi intervensi yang mahal, itu melalui spot, jumlahnya sekitar 30% dari total intervensi yang kami lakukan, itu intervensi ada di DNDF, NDF dan spot," kata Destry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (28/9/2026).

"Jadi kalau dulu dominannya spot, karena kita langsung jual dolar itu langsung gerus cadev kita," tegasnya.

Menurut Destry, intervensi melalui DNDF dan NDF dinilai jauh lebih efektif meredam tekanan nilai tukar tanpa harus langsung menguras pasokan dolar AS di cadangan devisa negara, meskipun tekanan terhadap mata uang Garuda masih terus berlanjut.

"Dengan kita kembangkan DNDF dulu, kemudian NDF, itu lebih efektif walau tekanan masih ada, karena ada masalah fundamental dan struktural yang kami bicarakan dengan KSSK khususnya pemerintah dari Kementerian Keuangan," ujar Destry.

Lebih lanjut, BI menekankan bahwa intervensi pasar moneter tidak bisa dijadikan satu-satunya tumpuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar yang sangat sensitif terhadap sentimen global maupun domestik. Solusi jangka panjang terletak pada penguatan pilar ekonomi fundamental melalui integrasi kebijakan lintas lembaga.

"Kalau sektor eksternal kita masih lemah tentu itu akan berat, sehingga kami bicara bagaimana program-program tingkatkan ekspor, investasi, termasuk real investment maupun portfolio investment," tegasnya.

💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update