Obligasi Korporasi Vietnam Turun 59 Persen, Utang Jatuh Tempo Tembus VND 235 Triliun
MataBank.id - Penerbitan obligasi korporasi baru di Vietnam mengalami penurunan tajam pada Oktober. Berdasarkan data VIS Rating, total nilai obligasi yang diterbitkan pada bulan tersebut mencapai sekitar VND 31 triliun, turun 59 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Sektor perbankan mendominasi penerbitan dengan kontribusi 83 persen dari total nilai. Sementara itu, sektor properti menyumbang 6 persen. Obligasi yang diterbitkan melalui penempatan swasta masih menjadi pilihan utama, dengan porsi mencapai 94 persen dari total penerbitan.
Di tengah penurunan tersebut, tingkat bunga obligasi properti tercatat lebih tinggi dibandingkan obligasi perbankan. Rata-rata kupon nominal obligasi properti pada Oktober mencapai 12,5 persen per tahun, sedangkan kelompok perbankan menawarkan rata-rata 8,7 persen per tahun.
Salah satu penerbit dari sektor properti, Vinhomes Joint Stock Company, menerbitkan obligasi bertenor tiga tahun senilai VND 2 triliun dengan tingkat bunga awal 12,5 persen per tahun. Adapun penerbitan utama dari kelompok perbankan berasal dari BIDV, Techcombank, dan OCB.
Obligasi Properti Vietnam dan Tekanan Jatuh Tempo
Hingga akhir Oktober, nilai obligasi sektor properti residensial yang masih beredar mencapai sekitar VND 469 triliun. Angka tersebut menempatkan sektor properti di posisi kedua setelah perbankan, yang memiliki obligasi beredar sekitar VND 704 triliun.
Di pasar sekunder, obligasi Vinhomes menjadi yang paling aktif diperdagangkan dengan nilai mencapai VND 29,685 triliun. Posisi berikutnya ditempati Vietjet sebesar VND 11,216 triliun, Hung Phat Invest Hanoi senilai VND 10,458 triliun, dan Hung Long sebesar VND 10,086 triliun.
Perkiraan tingkat pemulihan obligasi jatuh tempo di sektor properti residensial mencapai 59,3 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan sektor energi, pariwisata dan resor, serta konstruksi.
Meski demikian, tekanan pembayaran utang diperkirakan meningkat. Sekitar VND 235 triliun obligasi korporasi akan jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan, atau lebih tinggi VND 66 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.
Tingkat keterlambatan pembayaran dalam 12 bulan terakhir sedikit menurun menjadi 0,20 persen. Namun, pada Oktober VIS Rating mencatat satu kasus baru keterlambatan pembayaran pokok obligasi oleh Century Real Estate Investment and Development Joint Stock Company. Nilai pokok terutang saat keterlambatan tersebut mencapai VND 620 miliar.
Obligasi Jatuh Tempo Kuartal IV Capai VND 93 Triliun
Tekanan pelunasan utang diperkirakan semakin terasa pada kuartal IV. Menurut S&I Rating, total nilai obligasi korporasi yang jatuh tempo pada periode tersebut diperkirakan mencapai sekitar VND 93 triliun, tertinggi sepanjang tahun ini.
Sektor properti menjadi kelompok yang paling menghadapi tekanan, dengan obligasi jatuh tempo sekitar VND 46,9 triliun. Nilai tersebut setara dengan hampir separuh dari total obligasi yang akan jatuh tempo di seluruh pasar.
S&I Rating memperkirakan penerbitan obligasi baru ke depan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan modal proyek-proyek baru, tetapi juga untuk merestrukturisasi utang yang telah ada.
Kebutuhan modal jangka menengah dan panjang di Vietnam terus meningkat untuk membiayai berbagai proyek, mulai dari real estat, pembangunan perkotaan, infrastruktur transportasi, energi, hingga industri. Dalam kondisi tersebut, obligasi korporasi diharapkan tetap menjadi salah satu saluran penting penghimpunan dana untuk melengkapi kebutuhan pembiayaan perekonomian.
Namun, kemampuan perusahaan dalam menghimpun modal berpotensi menghadapi tantangan karena suku bunga domestik dan internasional masih berada pada tingkat tinggi.
Ekspektasi inflasi serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah di pasar internasional dapat mempertahankan suku bunga pada level tinggi setidaknya hingga paruh pertama 2027.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya modal bagi perusahaan penerbit obligasi. Dampaknya diperkirakan lebih besar dirasakan perusahaan dengan tingkat leverage keuangan tinggi atau kebutuhan pendanaan dalam jumlah besar.
